Blogroll

Thursday, November 29, 2018

makanan khas korsel (korea selatan)

Kebanyakan makanan khas Korea yang paling banyak digemari oleh para pecinta Korea Selatan ini adalah makanan-makanan yang sering muncul di drama-drama Korea atau yang banyak di upload ke sosial media oleh para idol favorit mereka, membuat mereka pun ikut penasaran dan ingin mencicipinya.
Dari mulai jajanan pinggir jalan sampai makanan tradisional, ini dia kumpulan makanan khas dari Korea Selatan yang banyak di gandrungi oleh para Kpopers di Indonesia:
 © PT. Dwi Cermat Indonesia

1. Tteokbokki

Tteokbokki© PT. Dwi Cermat Indonesia Tteokbokki
Tteokbokki
Disebut juga dengan kue beras adalah makanan khas Korea yang dibuat dari garae-tteok berukuran kecil yang disebut tteokmyeon atau umumnya tteok-bokki-tteok. Kue beras ini dimasak dengan fish cakes, telur rebus, dan daun bawang dihidangkan dengan kuah pedas yang nikmat. Kamu juga bisa kok makan ini dengan lelehan keju diatasnya.
2. Kimbab
Kimbab© PT. Dwi Cermat Indonesia Kimbab
Kimbab
Kimbab adalah hidangan Korea yang terbuat dari nasi dan bahan-bahan seperti timun, wortel dan daging ayam atau ikan yang diiris-iris tipis yang digulung dalam gim (rumput laut kering) dan penyajian adalah dipotong menjadi beberapa bagian. Kimbab termasuk dari makanan sehat di Korea Selatan, dan banyak dijadikan sebagai bekal makan siang.

3. Gyoza/Mandu Goreng

Gyoza© PT. Dwi Cermat Indonesia Gyoza
Gyoza
Jika biasanya dumpling itu di kukus, kalau gyoza khas Korea ini digoreng. Sama seperti dumpling pada biasanya yang memiliki beberapa bahan makana sebagai isiannya seperti daging/ikan cincang dan sayuran seperti wortel atau daun bawang.

4. Bibimbap

Bibimbap© PT. Dwi Cermat Indonesia Bibimbap
Bibimbap
Bibimbap adalah hidangan tradisional Korea yang artinya "nasi campur". Bibimbap disajikan dengan semangkuk nasi putih hangat yang tambahkan dengan namul dan gochujang, kecap, atau doenjang diatasnya. Semakin populer saat ini bibimbap juga dikreasikan dengan berbagai olahan makanan lain seperti sosis dan keju.

5. Eomukguk/Fish Cakes

Fish Cake© PT. Dwi Cermat Indonesia Fish Cake
Fish Cake
Kalau kamu tahu odeng, street food  dari Jepang, maka Eomukguk adalah nama lainnya dari Korea. Makanan sama yaitu berbagai olahan makanan dari ikan seperti bakso ikan atau goreng2an ikan yang dicampur dengan tepung kemudian di goreng atau direbus dan disajikan dengan kuah sup hangat.

6. Ramyeon/Mie Kuah Pedas

Ramyeon© PT. Dwi Cermat Indonesia Ramyeon
Ramyeon
Jika Ramen adalah nama dari Jepang, maka Ramyeon adalah sebutan dari Korea. Ramyeon adalah mie instan yang disajikan dengan kuah pedas panas. Uniknya ramyeon instan dari Korea Selatan saat ini biasanya disertakan oleh kimchi kering bahkan keju bubuk lansung di didalam kemasannya.

7. Samyang/Mie Goreng Pedas

Samyang
Share:

tahun baru di negara korsel (korea selatan)

Mendengarkan Bunyi Lonceng Tahun Baru di Bosingak Bell Pavilion

fakta tahun baru di KoreaMasyarakat Korea Selatan merayakan detik-detik hitungan mundur malam tahun baru dengan berkumpul dan mendengarkan denting Lonceng di Paviliun Bosingak di Jongno-gu, daerah kota Seoul. Bosingak sendiri adalah menara lonceng yang dipasang pada masa Dinasti Joseon (1392-1910). Selama masa dinasti itu, lonceng dibunyikan dua kali sehari untuk mengumumkan waktu dan juga penutupan gerbang kota (Gerbang Sungnyemun, Gerbang Heunginjimun, Gerbang Sukjeongmun, dan Gerbang Donuimun). Nah, di masa sekarang, pada malam hari menjelang pergantian tahun, lonceng akan dibunyikan selama 33 kali dan diiringi dengan suara peluncuran kembang api.

Melihat Matahari Terbit di Awal Tahun yang Baru

fakta tahun baru di KoreaSetelah mendengar bunyi lonceng di Bosingak Bell Pavilion, warga Korea Selatan akan melanjutkan tradisi perayaan menyambut tahun baru dengan pergi ke daerah pesisir timur untuk melihat matahari terbit pertama kali di tahun yang baru. Mengapa harus melihat matahari terbit? Konon katanya menurut kepercayaan di sana, melihat matahari terbit pertama kali di tahun yang baru adalah tradisi untuk berdoa memohon kesehatan, rezeki dan kesehatan di tahun baru. Orang-orang Korea Selatan pergi ke tempat yang paling populer untuk melihat matahari terbit pertama kali di daerah Jeongdongin, Kota Gangneung – sekitar 4 jam dari Seoul.

Mencoba Ice Fishing Selama Bulan Januari

fakta tahun baru di koreaFakta tahun baru di Korea yang berikutnya adalah mencoba ice fishing di bulan Januari. Dari sekian banyak festival musim dingin yang dirayakan ketika liburan tahun baru di Korea, salah satu festival yang paling terkenal adalah Hwacheon Sancheoneo Festival atau festival memancing dalam air es di kota Hwacheon, daerah Provinsi Gangwon-do. Dalam festival ini, chingu bisa mencoba memancing ikan dari sungai yang membeku, menangkap ikan dengan tangan telanjang di tengah dinginnya kolam, atau juga mencicipi berbagai makanan tradisional hingga melihat kesenian es terbesar di Korea.

Menikmati Salju di Taebaek Mountain Snow Festival

fakta tahun baru di koreaBelum lengkap rasanya kalau tidak menikmati musim dingin di Korea dengan bermain salju. Dan, salah satu tempat terbaik untuk merayakannya adalah Festival Salju di Gunung Taebaek. Berbagai kegiatan menarik dimulai dari treking di atas salju, sleding dengan dikawal anjing Siberian Husky, rafting salju, sampai dengan membuat pahatan salju bisa kalian coba di festival ini. Pemandangan indah gunung Taebaek memang terkenal dengan saljunya yang menumpuk dan tebal selama bulan Januari.

Ice Skating yang Romantis dengan Pemandangan Indah Kota Seoul

fakta tahun baru di koreaSetelah puas menikmati malam tahun baru dan festival musim dingin, chingujangan lupa untuk menghabiskan sisa liburan layaknya warga Korea dengan latihan ice skating di Seoul Plaza, di depan City Hall station Kota Seoul. Arena es outdoor ini hanya dibuka selama musim dingin mulai dari 17 desember hingga 9 februari loh. Letaknya yang outdoor memberikan pemandangan kota Seoul di malam hari, di samping pohon natal besar dan berbagai hiasan lampu natal dan tahun baru yang sulit didapat jika bermain ice skating di dalam ruangan. Suasanya dijamin sangat romantis.
Share:

Thursday, November 22, 2018

MASJID DI MALADEWA

Republik Maladewa adalah sebuah negara kepulauan yang terdiri dari kumpulan atol (suatu pulau koral yang mengelilingi sebuah laguna) di Samudra Hindia. Maladewa terletak di sebelah selatan-barat daya India, sekitar 700 km sebelah barat daya Sri Lanka. Negara ini memiliki 26 atol yang terbagi menjadi 20 atol administratif dan 1 kota. Negara ini merupakan negara dengan populasi dan luas wilayah terkecil di kawasan Asia.Tinggi rata-rata permukaan tanah di Maladewa adalah 1.5 meter di atas permukaan laut, hal ini menjadikannya negara dengan permukaan terendah di seluruh dunia. Puncak tertinggi Maladewa hanya 2.3 meter di atas permukaan laut sehingga negara ini juga dikenal sebagai negara yang memiliki puncak tertinggi paling rendah di dunia.Keadaan ekonomi Maladewa bergantung pada dua sektor utama, yaitu pariwisata dan perikanan. Negara ini sangat dikenal memiliki banyak pantai yang indah dan pemandangan bawah laut yang menarik ± 700.000 turis setiap tahunnya. Penangkapan dan pengolahan ikan menjadikan Maladewa salah satu ekportir ikan ke beberapa negara Asia dan Eropa.

Asal Muasal Nama Maladewa[sunting | sunting sumber]

Nama Maladewa mungkin berasal dari bahasa Sanskerta mālā (untaian/kalungan) dan dvīpa (pulau), atau මාල දිවයින Maala Divaina("Untaian Pulau-pulau") dalam bahasa Sinhala. Orang Maladewa disebut Dhivehin. Istilah Dheeb/Deeb (Bahasa Dhivehi kuno, terkait dengan istilah Sanskerta dvīpa (द्वीप)) yang artinya "pulau", dan Dhives (Dhivehin) yang berarti "orang pulau" (seperti halnya Maldivians). Selama masa kolonial, orang-orang Belanda menyebut penduduk negeri ini sebagai Maldivische Eilanden dalam catatan-catatan mereka, sedangkan Maldive Islands adalah versi lidah orang-orang Inggris, yang selanjutnya menjadi nama yang umum dipakai yaitu "Maldives".[perlu referensi]
Babad Sri Lanka kuno Mahawamsa menyebut kepulauan ini sebagai Mahiladiva ("Island of Women/Pulau Perempuan", महिलादिभ) dalam bahasa Pali, yang mungkin merupakan salah pengucapan dari istilah Sanskerta yang berarti "kalung bunga".
Hogendorn berteori bahwa nama Maladewa berasal dari istilah Sanskerta mālādvīpa (मालाद्वीप), yang artinya "garland of islands/untaian pulau-pulau". Dalam bahasa Malayalam, diucapkan sebagai Maladweepu (മാലദ്വീപ്). Dalam bahasa Tamil, diucapkan sebagai MalaiTheevu (மாலைத்தீவு). Meskipun nama-nama ini tidak disebutkan dalam literatur manapun, namun naskah-naskah klasik berbahasa Sanskerta yang berasal dari periode Vedic menyebutkan "Hundred Thousand Islands/Kepualuan Ratusan Ribu" (Lakshadweepa), nama generik yang mencakup tidak hanya Maladewa, tetapi juga Laccadives, Kepulauan Aminidivi, Minicoy dan Kepulauan Chagos.
Beberapa penjelajah kuno seperti Ibn Batuta menyebut kepulauan ini Mahal Dibiyat (محل دبيأت) dari kata Arab Mahal ("place/tempat"), yang semestinya berasal dari cara pengucapan pengelana-pengelana Berber terhadap nama tempat tersebut, melintasi wilayah India Utara Muslim, di mana istilah-istilah Perso-Arabic dikenal dalam kosa kata lokal. Nama inilah yang sekarang dicantumkan di dalam simbol resmi negara Maladewa. Nama klasik Persia/Arab untuk Maladewa adalah Dibajat.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sejarah awal negara ini tidak diketahui secara pasti. Menurut legenda, seorang pangeran Sinhalese (Indo-Aryan) yang bernama KoiMale terdampar bersama pasangannya, seorang putri dari Raja Sri Lanka, di Maladewa dan menetap di sana sebagai sultan pertama. Selama berabad-abad, kepulauan ini dikunjungi oleh pelaut dari Arab dan India. Pada abad ke-16, bangsa Portugis menjajah kepulauan ini selama 15 tahun (1558-73) sebelum akhirnya direbut kembali oleh Muhammad Thakurufar Al-Azam.
Sejak tahun 1887 hingga kemerdekaan Maladewa pada 26 Juli 1965, negara ini menjadi bagian dari perwalian Inggris. Sejak tahun 1153 hingga 1968, negara ini berbentuk kesultanan Islam yang independen. Setelah memperoleh kemerdekaan dari Inggris, bentuk pemerintahan kesultanan hanya bertahan selama tiga tahun dan kemudian dihapuskan serta diganti menjadi republik.
Beberapa bencana alam besar pernah melanda kepulauan ini, di antaranya adalah gelombang tinggi yang membanjiri beberapa pulau pada April 1987. Pada Desember 2004, tsunami Samudera Hindia menggenangi sejumlah pulau dan mengkontaminasi sumber air, merusak rumah, tanah, dan persediaan air tanah.

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Penduduk Maladewa disebut orang Divehi. Mereka menamakan negara mereka Divehi rājje yang berarti Kerajaan Kepulauan.Secara etnografi, orang Divehi dibagi menjadi tiga kelompok yaitu kelompok utama penduduk Maldives yang menempati IhavandippuỊu (Haa Alif) hingga Haddummati (Laamu), kelompok selatan Maladewa yang mendiami tiga atol paling selatan di ekuator, dan penduduk Minicoy yang menempati pulau sepanjang 10 km dibawah administrasi India. Berdasarkan etnisnya, penduduk Maladewa dibagi menjadi 4, yaitu SinhaleseDravidiaBangsa DravidaArab, dan Afrika berkulit hitam. Hanya ada satu etnik minoritas di negara ini, yaitu Suku Indian.

Perekonomian[sunting | sunting sumb

Selain sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung perekonomian Maladewa, kegiatan ekspor ikan tuna juga menjadi salah satu pendapatan penting negara ini. Sebanyak 90% dari total produk perikanan yang diekspor oleh Maladewa merupakan produk tunasegar, tuna kering, tuna beku, tuna yang diasinkan, dan tuna kaleng.
Kondisi tanah Maladewa yang kurang subur menyebabkan hasil tanam di negara ini sangat terbatas, hanya beberapa tanaman seperti kelapapisangsukunpepayamanggatalasubi, dan bawang yang dapat tumbuh di area negara ini. Hal ini juga menyebabkan sebagian besar makanan harus diimpor dari luar negeri
Industri di negara ini terdiri dari pembuatan kapal, kerajinan tangan, pengalengan tuna, serta produksi pipa PVCsabunmebel, dan produk makanan.[4] Beberapa negara yang berhubungan baik dalam perekonomian Maladewa adalah Jepang, Sri Lanka, Thailand, dan Amerika Serikat.


Share:

Friday, November 16, 2018

mengenang pahlawan indonesia (sultan hasanuddin)

Sultan Hasanuddin, (lahir di Makassar, Sulawesi Selatan,12 Januari 1631 - meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juni 1670 pada umur 39 tahun). Sultan Hasanuddin terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe.

Setelah naik tahta sebagai sultan, beliau mendapat gelar Sultan Hasanuddin, Tumenanga Ri Balla Pangkana (yang meninggal di istananya yang indah). atau lebih dikenal dengan Sultan Hasanuddin. Ia dijuluki e Haantjes van Het Oosten oleh Belanda yang artinya Ayam Jantan/Jago dari Benua Timur, karena keberaniannya melawan penjajah Belanda.

Sultan Hasanuddin merupakan anak kedua dari Raja Gowa ke-15, I Manuntungi Daeng Mattola, Karaeng Lakiung yang bergelar Sultan Malikussaid dan ibunya bernama I Sabbe To'mo Lakuntu yang merupakan Putri bangsawan Laikang.

Sultan Hasanuddin juga mempunyai seorang saudara perempuan yang bernama I Patimang Daeng Nisaking Karaeng Bonto Je'ne yang kemudian menjadi permaisuri Sultan Bima, Ambela Abul Chair Sirajuddin.

Sejak kecil Sultan Hasanuddin sudah memperlihatkan jiwa kepemimpinan sebagai seorang pemimpin masa depan. Kecerdasan dan kerajinan beliau dalam belajar sangat menonjol dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain. Pendidikannya di Pusat Pendidikan dan Pengajaran Islam di Mesjid Bontoala membentuk Hasanuddin menjadi pemuda yang beragama, rendah hati, jujur dan memiliki semangat perjuangan.

Selain itu, Hasanuddin pandai bergaul. Tidak hanya dalam lingkungan bangsawan istana dan rakyatnya, tetapi meluas kepada orang asing seperti orang melayu, portugis dan inggris yang pada saat itu banyak berkunjung ke Makassar untuk berdagang.

Wafatnya Sultan hasanuddin dan Pengangkatan Sultan Malikussaid sebagai Raja Gowa ke-15

Pada umur 8 tahun, Sultan Alauddin Mangkat setelah memerintah selama 46 tahun. Hasanuddin merasa sangat sedih sekali. Kemudian ayahnya Sultan Malikussaid mengantikan kakek beliau menjadi Raja Gowa ke-15. Beliau dilantik pada tanggal 15 Juni 1639.

Selama kepemimpinannya Sultan Malikussaid kerap kali mengajak Hasanuddin yang masih berusia remaja untuk menghadiri perundingan-perundingan penting. Hal ini tiada lain dilakukan untuk mengajarkan Sultan Hasanuddin tentang  ilmu pemerintahan, diplomasi dan strategi peperangan.

Sejak itulah kecakapan dalam bidang ini sudah menonjol. Selain mendapat bimbingan dari ayahnya, Hasanuddin juga banyak dibimbing oleh mangkubumi kerajaan Gowa Karaeng Pattingaloang tokoh yang paling berpengaruh dan cerdas yang sekaligus guru dari Arung Palakka yang merupakan Raja Bone.

Sultan Hasanuddin beberapa kali menjadi utusan, sekaligus membawa amanah mewakili ayahnya mengunjungi kerajaan nusantara dengan membawa titah persatuan nusantara. Terutama pada daerah-daerah dalam gabungan pengawalan kerajaan Gowa.

Menjelang umurnya 21 tahun, Sultan Hasanuddin dipercaya untuk menjabat urusan Pertahanan Kerajaan Gowa dan banyak membantu ayahnya mengatur pertahanan guna menangkis serangan Belanda yang saat itu mulai dilancarkan.

Pengangkatan Sultan Hasanuddin sebagai Raja Gowa ke-16

I Mallombasi Daeng Mattawang dinobatkan menjadi Raja Gowa ke-16 dengan gelar Sultan Hasanuddin pada bulan Nopember 1653 menggantikan ayahnya pada saat beliau berusia 22 tahun. Sultan Hasanuddin bukanlah putra mahkota yang mutlak menjadi pewaris kerajaan, dikarenakan derajat kebangsawanan ibunya lebih rendah dari ayahnya.

Sultan Hasanuddin diangkat menjadi raja karena pesan dari ayahnya sebelum wafat. Wasiat dari Raja kepada Sultan Hasanuddin disetujui oleh Mangkubumi Kerajaan Karaeng Pattingaloang. karena melihat sifat-sifat Hasanuddin yang tegas, berani dan juga memiliki kemampuan serta pengetahuan yang luas.

Kerajaan Gowa Menentang Usaha Monopoli VOC

Sultan Hasanuddin melanjutkan perjuangan ayahandanya melawan VOC yang menjalankan monopoli perdagangannya di Indonesia bagian timur. VOC menganggap orang - orang Makasar dan Kerajaan Gowa sebagai penghalang dan saingan berat. Bahkan VOC menganggap sebagai musuh yang sangat berbahaya. 

Sultan Hasanuddin memerintah Kerajaan Gowa ketika Belanda sedang berusaha menguasai hasil rempah-rempah dan memonopoli hasil perdagangan wilayah timur Indonesia. Salah satu caranya adalah melarang orang Makasar berdagang dengan musuh-musuh Belanda seperti Portugis dsb.

Tentu saja keinginan Belanda ditolak mentah-mentah Raja Gowa. Kerajaan Gowa menentang dengan keras hak monopoli yang hendak dijalankan VOC. Sultan Alaudin, Sultan Muhammad Said, dan Sultan Hasanuddin berpendirian sama. Bahwa Tuhan menciptakan bumi dan lautan untuk dimiliki dan dipakai bersama.

Itu sebabnya Kerajaan Gowa menentang usaha monopoli VOC dan ini yang membuat VOC berusaha untu menghancurkan dan menyingkirkan Kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa pada saat itu merupakan kerajaan terbesar yang menguasai jalur perdagangan.

Peperangan Melawan Belanda dan Perjanjian Bongaya

Dalam perjalanannya, terjadi pertempuran yang berlangsung di medan perang Sulawesi Selatan antara orang-orang Makassar yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin dengan VOC dipimpin oleh Laksamana Speelman. 

Tahun 1666, di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman, Belanda berusaha menundukkan kerajaan-kerajaan kecil, tetapi mereka belum berhasil menundukkan Kerajaan Gowa. Karena Sultan Hasanuddin berusaha menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia bagian timur untuk melawan Belanda.

Pertempuran-pertempuran terus berlangsung begitu pula selalu diadakannya berbagai perjanjian perdamaian dan gencatan senjata, namun selalu dilanggar oleh VOC dan merugikan Kerajaan Gowa.

Pada saat peperangan Belanda terus menambah kekuatan pasukannya hingga pada akhirnya Gowa terdesak dan semakin lemah. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya Sultan Hasanuddin bersedia menandatangani Perjanjian Bungaya, pada 18 November 1667.

Setelah merasa Perjanjian Bungaya itu sangat merugikan bagi rakyat dan Kerajaan Gowa, akhirnya pada 12 April 1668 perang kembali pecah.

Sultan Hasanuddin memberikan perlawanan sengit. Bantuan tentara dari luar, menambah kekuatan pasukan Belanda, hingga akhirnya berhasil menerobos benteng terkuat Kerajaan Gowa yaitu Benteng Sombaopu  pada tanggal 24 Juni 1669.

Sultan Hasanuddin Turun Tahta

Setelah kekalahan yang diderita Kerajaan Gowa dan mundurnya Sultan Hasanuddin dari benteng Somba Opu ke benteng Kale Gowa, maka usaha Speelman memecah belah persatuan kerajaan Gowa terus dilancarkan.

Usaha ini berhasil, setelah diadakan "pengampunan umum". Siapa yang mau menyerah diampuni Belanda. Beberapa pembesar kerajaan menyatakan menyerah. Karaeng Tallo dan Karaeng Lengkese menyatakan tunduk pada Perjanjian Bungaya.

Sultan Hasanuddin sudah bersumpah tidak akan sudi bekerja sama dengan penjajah Belanda. Pada tanggal 29 Juni 1669 Sultan Hasanuddin meletakkan jabatan sebagai Raja Gowa ke-16 setelah selama 16 tahun berperang melawan penjajah dan berusaha mempersatukan kerajaan Nusantara.

Sebagai penggantinya ditunjuk putranya I Mappasomba Daeng Nguraga Bergelar Sultan Amir Hamzah. Sesudah turun tahta, Sultan Hasanuddin banyak mencurahkan waktunya sebagai pengajar Agama Islam dan berusaha menanamkan rasa kebangsaan dan persatuan.

Wafatnya Sultan Hasanuddin

Pada hari Kamis tanggal 12 Juni 1670 bertepatan dengan tanggal 23 Muharram 1081 Hijriah. Sultan Hasanuddin wafat dalam usia 39 tahun. Beliau dimakamkan disuatu bukit di pemakaman Raja-raja Gowa di dalam benteng Kale Gowa di Kampung Tamalate.

I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla'Pangkana telah tiada. Tetapi semangatnya tetap berkobar di dada setiap insan bangsa yang mendambakan perdamaian dan kebebasan di Bumi Pancasila ini.

Nama Sultan Hasanuddin abadi dalam dada. Menghormati jasanya dengan mengabadikan namanya menjadi nama jalan pada hampir disetiap Kota di Nusantara. Universitas Hasanuddin sebagai salah satu universitas terkemuka di Indonesia bagian Timur, mempergunakan namanya dan memakai lambangnya "Ayam Jantan Dari Timur".

Komando Daerah Militer (KODAM) XIV Hasanuddin mengabadikan namanya dan menjadikan semboyannya "Abbatireng Ri Pollipukku" (setia pada Negeriku). Dan dengan keputusan Presiden RI No. 087/TK?tahun 1973 Tanggal 6 November 1973, Sultan Hasanuddin dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, untuk menghargai jasa-jasa kepahlawanannya.

Share:

Thursday, November 15, 2018

mengenang jasa pahlawan ir.suekarno

Di tengah maraknya isu perpecahan berbau SARA (suku, agama dan ras) dan ujaran kebencian di ruang-ruang publik, orasi kebangsaan Sang Proklamator menjadi sebuah narasi penting yang patut disimak oleh seluruh elemen masyarakat. Dalam setiap pidatonya, Bung Karno selalu mengingatkan agar peringatan Hari Kebangkitan Bangsa tidak dimaknai sebagai seremonial belaka. Tanggal 20 Mei 1908, kata Soekarno, adalah salah satu tonggak penting perlawanan atas penindasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kolonial Belanda. (baca: Bermula dari Kebangkitan Jawa Menuju Kebangkitan Nasional) Peristiwa tersebut menjadi tonggak yang menyatukan tenaga rakyat dalam entitas sebuah bangsa. Saat peringatan Hari Kebangkitan Nasional di Stadion Utama Senayan, Jakarta, 20 Mei 1964, Soekarno menyinggung soal upaya adu domba dan pemecahbelahan sebagai senjata yang paling ampuh untuk menguasai suatu bangsa. Lantas dia membandingkan kondisi bangsa Indonesia saat itu dengan zaman kerajaan  Sriwijaya dan Majapahit.   (baca: Boedi Oetomo, Sang Penanda Kebangkitan Nasionalisme) Penduduk Nusantara yang menjadi cikal bakal bangsa Indonesia, kata Soekarno, merasa menjadi satu bangsa yang tidak terbagi-bagi. Bangsa Indonesia, dari pulau yang barat sampai ke pulau yang paling timur adalah satu negara, satu bangsa yang tidak bisa dibagi-bagi. "Tetapi kemudian imperialisme memecah belah kita, kita diadu domba satu sama lain. Orang Jawa dibikin benci kepada orang Sumatera. Orang Sumatera dibikin benci kepada orang Jawa. Orang Jawa dibikin benci kepada orang Sulawesi. Orang Sulawesi dibikin benci sama orang Jawa... Dan ini salah satu senjata yang immateriil," tutur Soekarno seperti dikutip dari kumpulan naskah pidato berjudul 'Bung Karno: Setialah Kepada Sumbermu'. Pada pidato 20 Mei 1963 di alun-alun kota Bandung, Soekarno menegaskan bahwa persatuan dan kesatuan merupakan satu-satunya cara agar bangsa Indonesia lepas dari penghinaan serta penindasan oleh bangsa lain. Dia mengumpamakan bangsa Indonesia sebagai sapu lidi, yang terdiri dari beratus-ratus lidi. Jika tidak diikat, maka lidi tersebut akan tercerai berai, tidak berguna dan mudah dipatahkan.   "Tetapi jikalau lidi-lidi itu digabungkan, diikat menjadi sapu, mana ada manusia bisa mematahkan sapu lidi yang sudah terikat, tidak ada saudara-saudara," kata Soekarno. "Ingat kita kepada pepatah orang tua, rukun agawe santosa, artinya jikalau kita bersatu, jikalau kita rukun, kita menjadi kuat!" tuturnya. Kesatuan sikap, program dan tindakan Tidak bisa dipungkiri perjuangan tokoh-tokoh pergerakan melalui berbagai macam organisasi politik telah berperan dalam mewujudkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Organisasi-organisasi politik modern mulai bermunculan sejak berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 dan terus berkembang hingga pasca-kemerdekaan. Soekarno menyebut Boedi Oetomo merupakan awal dari satu cara baru dalam membebaskan masyarkat dari penjajahan. Melalui organisasi, bangsa Indonesia perlahan mulai menyadari pentingnya rasa persatuan dan kesatuan untuk mewujudkan kemerdekaan. "Apakah cara baru itu? Cara baru itu ialah cara mengejar sesuatu maksud dengan alat organisasi politik, cara berjuang dengan cara perserikatan dan perhimpunan politik—cara berjuang dengan tenaga persatuan. Organisasi perserikatan inilah (Boedi Oetomo) jalan yang utama untuk memenuhi ajaran rukun agawe santosa. Persatuan membuat kekuatan," ujar Soekarno saat berpidato pada 20 Mei 1952. Menurut Soekarno, perkembangan organisasi dan partai politik tidak perlu dibatasi. Dia menilai demokrasi telah membangun situasi di mana setiap orang memiliki hak untuk berserikat. Namun, dalam pidatonya itu, Soekarno menegaskan bahwa seluruh organisasi dan partai politik yang ada harus berlandaskan pada persatuan dan mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan organisasi. "Ini bukan berarti saya tak mengerti pertumbuhan partai dan organisasi dalam alam demokrasi. Ini pun tidak berarti saya meremehkan partai dan organisasi yang sekarang ada, sama sekali tidak," kata Sang Proklamator. "Ini hanya berarti saya mengatakan bahwa bagi Negara haruslah primer. Tidak mungkin partai dan organisasi kita bergerak seperti sekarang ini kalau tidak ada Negara Republik kita!" tegasnya. Soekarno tidak menampik demokrasi telah memberikan kemerdekaan berpikir dan berpendapat. Akan tetapi, setiap orang pun harus bisa membatasi diri. Baginya, demokrasi merupakan satu dasar dan jalan bagi sebuah bangsa untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran masyarakatnya. Dengan demikian, kata Soekarno, demokrasi juga telah menciptakan ikatan dalam melaksanakan pembangunan nasional. "Jadi saudara-saudara kesimpulan kita ialah marilah kita benar-benar suci bersatu, marilah kita sama-sama mengutamakan Negara, marilah kita bekerja konstruktif dalam arti benar-benar melaksanakan pembangunan nasional," ujar Sang Bung Besar

Share:

Thursday, November 8, 2018

pahlawan indonesia (jendral soedirman)


Sudirman; lahir 24 Januari 1916 – meninggal 29 Januari 1950 pada umur 34 tahun[a]) adalah seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Menjadi panglima besar Tentara Nasional Indonesiapertama, ia secara luas terus dihormati di Indonesia. Terlahir dari pasangan rakyat biasa di Purbalingga, Hindia Belanda, Soedirman diadopsi oleh pamannya yang seorang priyayi. Setelah keluarganya pindah ke Cilacap pada tahun 1916, Soedirman tumbuh menjadi seorang siswa rajin; ia sangat aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, termasuk mengikuti program kepanduan yang dijalankan oleh organisasi Islam Muhammadiyah. Saat di sekolah menengah, Soedirman mulai menunjukkan kemampuannya dalam memimpin dan berorganisasi, dan dihormati oleh masyarakat karena ketaatannya pada Islam. Setelah berhenti kuliah keguruan, pada 1936 ia mulai bekerja sebagai seorang guru, dan kemudian menjadi kepala sekolah, di sekolah dasar Muhammadiyah; ia juga aktif dalam kegiatan Muhammadiyah lainnya dan menjadi pemimpin Kelompok Pemuda Muhammadiyah pada tahun 1937. Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942, Soedirman tetap mengajar. Pada tahun 1944, ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang disponsori Jepang, menjabat sebagai komandan batalion di Banyumas. Selama menjabat, Soedirman bersama rekannya sesama prajurit melakukan pemberontakan, namun kemudian diasingkan ke Bogor.
Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, Soedirman melarikan diri dari pusat penahanan, kemudian pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan Presiden Soekarno. Ia ditugaskan untuk mengawasi proses penyerahan diri tentara Jepang di Banyumas, yang dilakukannya setelah mendirikan divisi lokal Badan Keamanan Rakyat. Pasukannya lalu dijadikan bagian dari Divisi V pada 20 Oktober oleh panglima sementara Oerip Soemohardjo, dan Soedirman bertanggung jawab atas divisi tersebut. Pada tanggal 12 November 1945, dalam sebuah pemilihan untuk menentukan panglima besar TKR di Yogyakarta, Soedirman terpilih menjadi panglima besar, sedangkan Oerip, yang telah aktif di militer sebelum Soedirman lahir, menjadi kepala staff. Sembari menunggu pengangkatan, Soedirman memerintahkan serangan terhadap pasukan Inggris dan Belanda di Ambarawa. Pertempuran ini dan penarikan diri tentara Inggris menyebabkan semakin kuatnya dukungan rakyat terhadap Soedirman, dan ia akhirnya diangkat sebagai panglima besar pada tanggal 18 Desember. Selama tiga tahun berikutnya, Soedirman menjadi saksi kegagalan negosiasi dengan tentara kolonial Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia, yang pertama adalah Perjanjian Linggarjati –yang turut disusun oleh Soedirman – dan kemudian Perjanjian Renville –yang menyebabkan Indonesia harus mengembalikan wilayah yang diambilnya dalam Agresi Militer I kepada Belanda dan penarikan 35.000 tentara Indonesia. Ia juga menghadapi pemberontakan dari dalam, termasuk upaya kudeta pada 1948. Ia kemudian menyalahkan peristiwa-peristiwa tersebut sebagai penyebab penyakit tuberkulosis-nya; karena infeksi tersebut, paru-paru kanannya dikempeskan pada bulan November 1948.
Pada tanggal 19 Desember 1948, beberapa hari setelah Soedirman keluar dari rumah sakit, Belanda melancarkan Agresi Militer IIuntuk menduduki Yogyakarta. Di saat pemimpin-pemimpin politik berlindung di kraton sultan, Soedirman, beserta sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya, melakukan perjalanan ke arah selatan dan memulai perlawanan gerilya selama tujuh bulan. Awalnya mereka diikuti oleh pasukan Belanda, tetapi Soedirman dan pasukannya berhasil kabur dan mendirikan markas sementara di Sobo, di dekat Gunung Lawu. Dari tempat ini, ia mampu mengomandoi kegiatan militer di Pulau Jawa, termasuk Serangan Umum 1 Maret 1949di Yogyakarta, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto. Ketika Belanda mulai menarik diri, Soedirman dipanggil kembali ke Yogyakarta pada bulan Juli 1949. Meskipun ingin terus melanjutkan perlawanan terhadap pasukan Belanda, ia dilarang oleh Presiden Soekarno. Penyakit TBC yang diidapnya kambuh; ia pensiun dan pindah ke Magelang. Soedirman wafat kurang lebih satu bulan setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.
Kematian Soedirman menjadi duka bagi seluruh rakyat Indonesia. Bendera setengah tiang dikibarkan dan ribuan orang berkumpul untuk menyaksikan prosesi upacara pemakaman. Soedirman terus dihormati oleh rakyat Indonesia. Perlawanan gerilyanya ditetapkan sebagai sarana pengembangan esprit de corps bagi tentara Indonesia, dan rute gerilya sepanjang 100-kilometer (62 mi) yang ditempuhnya harus diikuti oleh taruna Indonesia sebelum lulus dari Akademi Militer. Soedirman ditampilkan dalam uang kertas rupiahkeluaran 1968, dan namanya diabadikan menjadi nama sejumlah jalan, universitas, museum, dan monumen. Pada tanggal 10 Desember 1964, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia Soedirman (EYDSudirman; lahir 24 Januari 1916 – meninggal 29 Januari 1950 pada umur 34 tahun[a]) adalah seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Menjadi panglima besar Tentara Nasional Indonesiapertama, ia secara luas terus dihormati di Indonesia. Terlahir dari pasangan rakyat biasa di PurbalinggaHindia Belanda, Soedirman diadopsi oleh pamannya yang seorang priyayi. Setelah keluarganya pindah ke Cilacap pada tahun 1916, Soedirman tumbuh menjadi seorang siswa rajin; ia sangat aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, termasuk mengikuti program kepanduan yang dijalankan oleh organisasi Islam Muhammadiyah. Saat di sekolah menengah, Soedirman mulai menunjukkan kemampuannya dalam memimpin dan berorganisasi, dan dihormati oleh masyarakat karena ketaatannya pada Islam. Setelah berhenti kuliah keguruan, pada 1936 ia mulai bekerja sebagai seorang guru, dan kemudian menjadi kepala sekolah, di sekolah dasar Muhammadiyah; ia juga aktif dalam kegiatan Muhammadiyah lainnya dan menjadi pemimpin Kelompok Pemuda Muhammadiyah pada tahun 1937. Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942, Soedirman tetap mengajar. Pada tahun 1944, ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang disponsori Jepang, menjabat sebagai komandan batalion di Banyumas. Selama menjabat, Soedirman bersama rekannya sesama prajurit melakukan pemberontakan, namun kemudian diasingkan ke Bogor.
Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, Soedirman melarikan diri dari pusat penahanan, kemudian pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan Presiden Soekarno. Ia ditugaskan untuk mengawasi proses penyerahan diri tentara Jepang di Banyumas, yang dilakukannya setelah mendirikan divisi lokal Badan Keamanan Rakyat. Pasukannya lalu dijadikan bagian dari Divisi V pada 20 Oktober oleh panglima sementara Oerip Soemohardjo, dan Soedirman bertanggung jawab atas divisi tersebut. Pada tanggal 12 November 1945, dalam sebuah pemilihan untuk menentukan panglima besar TKR di Yogyakarta, Soedirman terpilih menjadi panglima besar, sedangkan Oerip, yang telah aktif di militer sebelum Soedirman lahir, menjadi kepala staff. Sembari menunggu pengangkatan, Soedirman memerintahkan serangan terhadap pasukan Inggris dan Belanda di Ambarawa. Pertempuran ini dan penarikan diri tentara Inggris menyebabkan semakin kuatnya dukungan rakyat terhadap Soedirman, dan ia akhirnya diangkat sebagai panglima besar pada tanggal 18 Desember. Selama tiga tahun berikutnya, Soedirman menjadi saksi kegagalan negosiasi dengan tentara kolonial Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia, yang pertama adalah Perjanjian Linggarjati –yang turut disusun oleh Soedirman – dan kemudian Perjanjian Renville –yang menyebabkan Indonesia harus mengembalikan wilayah yang diambilnya dalam Agresi Militer I kepada Belanda dan penarikan 35.000 tentara Indonesia. Ia juga menghadapi pemberontakan dari dalam, termasuk upaya kudeta pada 1948. Ia kemudian menyalahkan peristiwa-peristiwa tersebut sebagai penyebab penyakit tuberkulosis-nya; karena infeksi tersebut, paru-paru kanannya dikempeskan pada bulan November 1948.
Pada tanggal 19 Desember 1948, beberapa hari setelah Soedirman keluar dari rumah sakit, Belanda melancarkan Agresi Militer IIuntuk menduduki Yogyakarta. Di saat pemimpin-pemimpin politik berlindung di kraton sultan, Soedirman, beserta sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya, melakukan perjalanan ke arah selatan dan memulai perlawanan gerilya selama tujuh bulan. Awalnya mereka diikuti oleh pasukan Belanda, tetapi Soedirman dan pasukannya berhasil kabur dan mendirikan markas sementara di Sobo, di dekat Gunung Lawu. Dari tempat ini, ia mampu mengomandoi kegiatan militer di Pulau Jawa, termasuk Serangan Umum 1 Maret 1949di Yogyakarta, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto. Ketika Belanda mulai menarik diri, Soedirman dipanggil kembali ke Yogyakarta pada bulan Juli 1949. Meskipun ingin terus melanjutkan perlawanan terhadap pasukan Belanda, ia dilarang oleh Presiden Soekarno. Penyakit TBC yang diidapnya kambuh; ia pensiun dan pindah ke Magelang. Soedirman wafat kurang lebih satu bulan setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.
Kematian Soedirman menjadi duka bagi seluruh rakyat Indonesia. Bendera setengah tiang dikibarkan dan ribuan orang berkumpul untuk menyaksikan prosesi upacara pemakaman. Soedirman terus dihormati oleh rakyat Indonesia. Perlawanan gerilyanya ditetapkan sebagai sarana pengembangan esprit de corps bagi tentara Indonesia, dan rute gerilya sepanjang 100-kilometer (62 mi) yang ditempuhnya harus diikuti oleh taruna Indonesia sebelum lulus dari Akademi Militer. Soedirman ditampilkan dalam uang kertas rupiahkeluaran 1968, dan namanya diabadikan menjadi nama sejumlah jalan, universitas, museum, dan monumen. Pada tanggal 10 Desember 1964, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia
Share:

BTemplates.com

Powered by Blogger.

BTemplates.com